Senin, 08 April 2013
SURVIVAL / DAYA TAHAN BERKOMPETISI
DAYA TAHAN BERKOMPETISI (SURVIVAL)
Ditinjau dari sudut dimensi manusia, keutuhan daya survival manusia akan diindikasikan dengan kelengkapan kemampuan yang harus dimiliki. Kelengkapan kemampuan tersebut terdiri dari:
1. Kemampuan Bekerja, mengindikasikan kemampuannya untuk bekerja dalam kewajibannya memenuhi kebutuhan dasar diri dan keluarganya.
2. Kemampuan Berkarya adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitarnya setelah kebutuhan dasar diri dan keluarganya terpenuhi.
3. Kemampuan Bertindak adalah suatu kemampuan yang bersifat meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja dan karya secara kumulatif termasuk peningkatan gradasi (tingkatan) kehidupan diri beserta lingkungannya.
Upaya Human Resources Management
Selasa, 05 April 2011
Bangkitlah...kamu mampu bekerja .....jangan malas
HIKMAH ITU SEPERTI HARTA KARUN
Ya.. Hidup ini seperti roda berputar, kadang diatas, kadang dibawah. Tentunya seperti halnya organ tubuh kita semuanya saling melengkapi. Meski banyak orang yang menggangap tangan kanan itu tangan baik, namun kita juga sekali waktu membutuhkan peran tangan kiri kita.
Penyebab Kegagalan
Rabu, 23 Februari 2011
Energi Positif Sebuah Pelukan dan Semyuman

Suatu hari di Gua Hira, Muhammad Saw. tengah bertahannuts (berdiam diri sambil beribadah kepada Rabbnya). Beliau telah berhari-hari tinggal di sana untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. Ketika tiba saatnya bulan Ramadhan, tiba-tiba muncullah sesosok makhluk dalam wujud seorang laki-laki.
Makhluk tersebut memeluk Muhammad, sambil berkata, “Iqra!” (Bacalah!). Kemudian beliau menjawab, “Ma ana biqira-in” (Saya tidak bisa membaca). Sosok tersebut mengulang kembali perintah yang sama yang dijawab sama pula oleh Muhammad. Hal tersebut berulang hingga tiga kali.
Setelah itu, Muhammad dapat membaca kata-kata yang diajarkan sosok tersebut. Di kemudian hari, kata-kata itu menjadi wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Muhammad melalui Jibril, sosok laki-laki yang menemui Muhammad di Gua Hira.
Sepulang dari gua Hira, Muhammad mencari Khadijah (istrinya) dan berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Ia gemetar ketakutan dan saat itu yang paling diinginkannya adalah kehangatan, ketenangan, dan kepercayaan dari orang yang dicintainya. Khadijah pun langsung menyelimuti Muhammad dan sambil memeluk, ia mendengarkan curahan hati sang suami tercinta. Khadijah pun kemudian menenangkan dan meyakinkan suaminya bahwa yang dialaminya bukanlah sesuatu yang menakutkan namun amanah yang akan sanggup ia jalankan, kelak di kemudian hari.
Mendengar ucapan istrinya yang begitu yakin membuat hati Muhammad tenang dan beliau merasa yakin bahwa dirinya baru saja diangkat menjadi Rasul. Dan setelah itu, Rasulullah selalu mendambakan pelukan hangat dari Khadijah setiap kali mendapatkan hambatan dakwah.
Terapi pelukan hampir sama dengan terapi jalan kaki. Terapi pelukan meningkatkan keseimbangan tubuh, kesehatan, dan mengurangi stres. Tentu saja, pelukan di sini tidak harus antara suami dan istri ataupun pelukan yang mengikutsertakan gairah di dalamnya.
Pelukan yang dimaksud di sini adalah pelukan yang dapat dilakukan pada dan oleh siapa saja dengan penuh kasih sayang, misalnya orangtua kepada anaknya, kakak kepada adiknya, kakek/nenek kepada cucunya, dan lain sebagainya.
Dr. Bhagat, salah satu doktor yang meneliti pengaruh pelukan di India mengatakan, “SENTUHAN, walau sekadar jabat tangan dan menyentuh pipi dengan pipi, ini ada manfaatnya. Ada rasa kehangatan ketika kita saling berjabat tangan. Namun, bila dilakukan lebih dari itu, yaitu dengan PELUKAN, tentu lebih bermanfaat, unsur terapinya akan lebih tinggi.”
Seluruh bagian di kulit kita memiliki organ perasa. Dari ujung kaki hingga kepala adalah area yang sensitif bila disentuh. Bahkan ketika masih di dalam kandungan (walau dilindungi air ketuban), sang janin sangat menyukai sentuhan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Jika sering disentuh, janin dalam kandungan akan tumbuh menjadi bayi yang sehat. Selain itu, secara psikis bayi tersebut akan tumbuh menjadi orang yang penyayang.
Anak-anak yang sering disentuh, dibelai, dan dipeluk oleh orangtuanya juga akan tumbuh menjadi anak yang sehat. Mereka akan merasa nyaman dan memiliki kepercayaan diri.
Pertumbuhan dan kesehatan mereka pun akan lebih bagus dibanding dengan anak-anak yang jarang disentuh, dibelai, dan dipeluk.
Jika bayi atau anak-anak rewel atau sakit, jangan biarkan mereka sendirian. Peluklah karena hal tersebut akan membuat mereka merasa nyaman kekebalan tubuhnya meingkat yang pada gilirannya akan membuat kondisi kesehatan mereka lebih baik.
Pada manusia dewasa, sentuhan dan pelukan juga sangat berarti, apalagi pada saat kehilangan seseorang, depresi, maupun stres. Dengan berpelukan, dia merasa ada orang yang memperhatikan, mencintai, serta membutuhkannya.
Perlu diketahui bahwa seluruh kulit kita sangat peka terhadap rangsang pelukan dan sangat membutuhkan sentuhan yang hangat dan erat. Dr. Harold Voth, senior psikiater di Kansas (Amerika Serikat) telah melakukan riset dengan menggunakan sampel ratusan orang. Hasilnya, mereka yang berpelukan mampu mengusir depresi, meningkatkan kekebalan tubuh, awet muda, tidur lebih nyenyak, dan badan akan terasa lebih sehat.
Helen Colton, penulis buku The Joy of Touching juga menemukan bahwa ketika seseorang disentuh, hemoglobin dalam darahnya meningkat hingga suplai oksigen ke jantung dan otak lebih lancar, badan menjadi lebih sehat, dan mempercepat proses penyembuhan.
Maka bisa dikatakan bahwa pelukan bisa menyembuhkan penyakit ‘hati’ dan merangsang hasrat hidup. Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh jurnal Psychosomatic Medicine yang menyatakan bahwa pelukan hangat dapat melepaskan oxytocin, hormon yang berhubungan dengan perasaan cinta dan kedamaian. Hormon tersebut akan menekan hormon penyebab stres yang awalnya mendekam di tubuh manusia.
Untuk itu, mulai saat ini, budayakanlah di rumah kita untuk saling memeluk. Ibu maupun ayah harus sesering mungkin memeluk anaknya, begitupun sebaliknya. Seorang kakak pun harus sering memeluk adiknya, sehingga akan terasa kasih sayang di antara keduanya.
Jika budaya pelukan sudah menghiasi setiap rumah, maka akan lahirlah generasi-generasi yang memiliki kasih sayang yang tinggi. Dan dengan kasih sayang yang tinggi akan mampu meminimalisir ketidakstabilan emosi manusia yang senantiasa berkasih sayang. Dalam salah satu hadits,
عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ لَمْ يَرْحَمِ النَّاسَ لاَ يَرْحَمْهُ اللهُ. الترمذى
Dari Jarir bin ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidak kasih sayang kepada manusia, Allah tidak akan kasih sayang kepadanya”.(HR. Tirmidzi)
percikaniman.org
Jumat, 18 Februari 2011
Team Building Challenge

Pelatihan di alam terbuka (outbound training) kini kian banyak diminati, baik yang dikemas dalam sebuah paket pelatihan khusus maupun sekadar sebagai penghangat di berbagai kegiatan lembaga atau sekolah. Kegiatan seperti ini menyenangkan karena bersifat rekreatif, membuat fresh, serta melibatkan aspek fisik, kecerdasan pikiran, dan kekuatan mental. Peserta terkadang harus melewati rintangan dan tantangan yang mendebarkan, tetapi sekaligus sangat mengasyikkan. Meski kadangkala terlihat sepele dan sederhana, berbagai game dalam outbound training sesungguhnya memiliki filosofi, esensi materi, dan manfaat yang penting, seperti membantu mengasah dan meningkatkan kemampuan kepemimpinan, membangun tim yang kompak dan efektif, serta membangun karakter diri yang positif, seperti keberanian, kejujuran, sportivitas, kooperatif, tidak egois, dan lain sebagainya. Salah satu paket kegiatan yang seringkali di inginkan oleh perusahaan adalah paket kegiatan Team Building Challenge.
Team Building Challenge adalah program pelatihan khusus yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk membangun kerjasama kelompok yang didasari oleh perasaan saling menghargai kemampuan tiap anggota kelompok dan didukung dengan pola komunikasi yang teratur.
Secara umum pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara terpadu yang mengembangkan dan membentuk sikap mental kerja berkualitas, yang mampu membangun kerja sama tim yang kuat dalam kelompoknya maupun kelompok lainnya. Serta mampu membentuk tim kerja yang solid sehingga tugas atau pekerjaan dapat dilaksanakan dengan cepat, tepat dan terarah.
Peserta diharapkan memiliki perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan berikut :
Memiliki sikap positif sehingga mampu menghilangkan Personal Block maupun Interpersonal Block dalam berhubungan dengan pihak lain.
Mengenal dan memahami prinsip – prinsip dalam mengembangkan kerja sama tim.
Mampu berkomunikasi secara baik dan benar dengan pihak lain.
Mampu ber-empati kepada atasan, bawahan, maupun sesama rekan kerja.
Memiliki sikap pantang menyerah dalam menyelesaikan suatu masalah.
Meningkatkan kemampuan manajerial dalam perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian sumber daya. (Planning, Organizing, Leading, Controlling )minimal didalam kelompoknya, dan lebih luas lagi bersama kelompok lainnya.
Memiliki sikap besar hati menerima masukan dan kritik dari rekan sejawat atas kekurangan dan kelemahan, serta memotivasi diri untuk melakukan perbaikan – perbaikan ( Feedback ).
Meningkatkan kemampuan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara efektif ( Problem Solving & Decision Making ).
Memiliki sikap loyalitas tinggi pada kelompok dan ada komitmen tim yang telah ditetapkan bersama demi keberhasilan dan kesuksesan bersama.
Mampu mengaplikasikan dan menerapkan konsep kerjasama, tidak hanya pada kelompok yang telah dibentuk, tetapi juga pada kelompok lainnya.
Semoga bermanfaat.




